Cerpen Dewasa - Dukun Seksi Pencari Nikmat | Cerita Sex 2020

Cerpen Dewasa - Dukun Seksi Pencari Nikmat

Cerpen Dewasa - Dukun Seksi Pencari Nikmat. Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan impian bagi sebagian besar orang. Bergagai cara ditempuh agar bisa lolos tes CPNS. Mengikuti bimbingan tes CPNS, menyogok, menyewa joki, sampai ke dukun sekalipun akan dilakukan. Entah karena putus asa setelah beberapa kali gagal dalam tes, akhirnya akupun juga memakai jasa dukun atau orang pintar. Menurut info yang aku peroleh dari temanku, ada seorang dukun di pinggir kota yang dulu pernah meloloskannya menjadi PNS.

Cerpen Dewasa - Dukun Seksi Pencari Nikmat
Cerpen Dewasa - Dukun Seksi Pencari Nikmat

Malam itu aku sendirian pergi mencari rumah dukun itu. Setelah sempat muter-muter nanya sana-sini, akhirnya aku tiba di sebuah rumah sederhana yang nyaris tidak terlihat dari jalan raya. Halamannya yang luas dan tertutup rimbunnya pohon-pohon mangga membuat suasana menjadi sejuk dan tenang. Setelah beberapa kali mengetuk pintu, seorang wanita setengah baya dengan senyum ramahnya membukakan pintu.

“Permisi, apa benar ini rumahnya Bu Mila?” tanyaku kemudian.
“Oh iya, saya sendiri. Silakan masuk, Mas!” Setelah dipersilakan duduk, tanpa basa-basi aku segera memperkenalkan diri dan langsung mengutarakan maksud kedatanganku.
“Ooo, jadi Mas Anang ini juga pengen jadi pegawai negeri to?”
“Iya Bu! Saya juga sudah membawa sebotol madu murni sebagai syarat, seperti yang dikatakan teman saya.” Aku menyodorkan satu botol madu murni kepada Bu Mila.
“Kalau begitu, silakan Mas Anang ikut saya ke dalam!” Bu Mila beranjak dari duduknya sambil membawa botol madu yang aku berikan tadi.beliau berjalan menuju ke sebuah kamar di ujung ruangan. Dari belakang aku membentutinya sambil memperhatikan gerakan pantatnya yang membuatku menelan ludah.
Sesampainya di dalam ruangan yang redup itu, Bu Mila menutup pintu dan menyuruhku membuka pakaianku.
“Maaf ya Mas Anang! Tolong pakaiannya di lepas dan silakan berbaring di ranjang itu! Kita akan segera memulai ritualnya!”
“Semuanya, Bu?” tanyaku malu-malu.

Bu Mila tersenyum, “Mas Anang gak usah malu. Anggap saja saya tidak ada. Toh ini kan juga demi cita-cita Mas Anang!” Bu Mila benar, pikirku. Lagi pula aku sudah terlanjur datang ke sini, jadi aku tidak perlu malu lagi.
Sementara Bu Mila menyiapkan kelengkapan ritual, aku segera menanggalkan semua busanaku kemudian berbaring di atas ranjang yang tidak terlalu empuk itu. Beberapa saat kemudian, dengan sebotol madu ditangannya , Bu Mila datang dan duduk di sampingku. Sesaat aku sempat melihat Bu Mila mengamati tubuh telanjangku. Pandangannya terkesan liar, seolah tengah melihat ayam panggang yang siap untuk di santap.
Dengan duduk bersimpuh di sampingku, Bu Mila mulai menuangkan madu murni itu ke sekujur tubuhku. Aku memejamkan mataku saat tangan lembut Bu Mila mulai menyentuh dadaku, meratakan madu yang lengket itu ke setiap sudut tubuhku. Jemarinya yang lentik dengan lihai menari-nari, meremas-remas dada bidangku, dan mempermainkan bulu-bulu halus yang tumbuh di atasnya. Aku menggigit bibirku sendiri, mencoba mengendalikan aliran darahku yang bergejolak menuju ke arah pangkal pahaku.

“Mas Anang sudah punya pacar?” tanya Bu Mila memecah keheningan.
“Eh, saya baru menikah enam bulan yang lalu, Bu!”
“Ooo…, jadi masih pengantin baru to! Wah, lagi panas-panasnya dong, Mas!” kata Bu Mila meledek.
“Ah, Bu Mila ini bisa saja!” Tanpa sengaja tanganku menyentuh lutut Bu Mila ketika beliau memindahkan tanganku yang tadi menutupi kemaluanku. Aku juga sempat melirik pahanya yang sedikit tersingkap. Wah, mulus juga pahanya, pikirku. Tanganku jadi betah berlama-lama di atas paha mulus itu. Bu Mila membiarkannya ketika tanganku mengelusnya. Bahkan beliau malah melebarkan pahanya. Seolah memberikan tanganku peluang untuk bergerak menelusuri paha bagian dalamnya.
Darahku semakin mendidih manakala dengan lincahnya jemari Bu Mila turun ke perutku, membelai bulu-bulu halusnya dan memijat otot-otot perutku yang keras.
“Wah…, badan Mas Anang kekar juga ya. Pasti Mas Anang rajin olah raga.”
“Ya, tiap pagi saya usahakan untuk olah raga meskipun cuma angkat beban atau sit up.”
“Ooo…, pantesan adi Mas Anang gede!”
“Maksud Bu Mila, adik yang mana?” tanyaku pura-pura bodoh.
“Maksud saya adik yang ini…..” kata Bu Mila sambil meremas kejantananku tanpa rasa canggung. Ada rasa kaget sekaligus senang dengan perlakuan Bu Mila. Beliau dengan lembut melumuri kejantananku dengan madu, kemudian mengocoknya pelan.
“Ooohh…, Bu! Enak…!” aku melenguh nikmat. Aku juga semakin berani dengan menyingkap roknya dan memilin pahanya lebih jauh lagi. Dan ternyata Bu Mila menanggapi positif tindakanku itu. Terbukti dengan ia sedikit mengangkat pantatnya agar aku bisa mencapai pangkal pahanya. Astaga…! Sekali lagi aku terkejut sekaligus senang manakala tanganku menyentuh rambut-rambut halus diantara pangkal paha Bu Mila. Ternyata beliau sudah tidak memakai celana dalam.
Perlahan-lahan aku mulai menggosok bibir vagina Bu Mila yang sudah basah itu dengan jariku. Bu Mila bertambah kelonjatan dan semaikin bersemangat mengocok batang kontolku. Perlahan lahan batang kejantananku itu mulai membesar dan mengeras. Tanpa rasa jijik, Bu Mila mulai menjilati sisa-sisa madu yang menempel di sekitar pangkal pahaku, melumat buah zakarku, kemudian bergerak naik menyapu urat-urat kontolku yang sudah bertonjolan.
“Gimana Mas Anang? Enak kan?” tanya bu Mila di sela-sela aksinya.
“Ahh.., nikmat banget Bu! Saya belum pernah merasakan senikmat ini!” Aku memang belum begitu pengalaman dalam hal sex. Selama berhubungan dengan isteriku, kami hanya melakukan dengan cara konvensional saja. Namun kali ini Bu Mila memberikan pelajaran baru yang ekstrim. Terbukti ketika Bu Mila dengan lembut memasukkan ujung penisku ke mulut mungilnya.
“Ooougghh…yeah…enak, Bu!” nafasku semakin memburu. aku merintih-rintih nikmat, namun Bu Mila masih asyik mempermainkan kontolku di dalam rongga mulutnya. Aku juga semakin berani. Kutarik rokny sampai terlepas. Bahkan Bu Mila juga melepaskan kaosnya sendiri. Gila! Di usianya yang sudah tidak muda lagi, ternya bu Mila masih memiliki tubuh yang bagus. Kulitnya putih mulus, payudaranya yang masih kencang dan montok, serta pantatnya yang bulat menggemaskan membuatku seolah ingin mengunyahnya. Oh, sungguh sexy.
“Aahhh…., kontol Mas Anang memang luar biasa besarnya. Hhhmmmm…., saya memang sudah lama mendambakan kontol sebesar ini.Hhhmmm…!” dengan rakus Bu Mila kembali melumat kejantananku. Kali ini beliau mengangkangi tubuhku dan menyodorkan vaginanya tepat ke wajahku. Dengan naluriku, akku mendekatkan mulutku ke vagina Bu Mila yang merekah merah. Bau harum yang keluar sangat merangsah syaraf otakku untuk menjilatnya.
Perlahan-lahan kujulurkan lidahku, dan kusapu permukaan vaginanya dengan lembut.
“Aaaaghhh…! Yaahhh…, begitu Mas! Jilat terus punya saya….!Oooghhh…!”
Bu Mila bertambah semangat mempermainkan kontolku di dalam mulutnya. Sementara tangannya mengocok batang kontolku, kepalanya juga bergerak naik turun. Sesekali beliau menyedo-nyedot ujung kontolku kuat-kuat. Cukup lama kami dalam posisi ini, saling menjilat, mengulum dan mengocok kemaluan masing-masing.
Berapa saat kemudian Bu Mila melepaskan kulumannya.
“Gimana, Mas Anang Suka kan?” tanya Bu Mila sambil tersenyum padaku.
Aku hanya mengangguk pelan sambil menikmati jemari Bu Mila yang masih memijit-mijit batang kontolku.
“Berdasarkan pengamatan saya, kebanyakan orang yang mempunyai penis besar mempunyai keinginan yang besar pula. Saya yakin, kali ini Mas Anang pasti akan bisa jadi Pegawai Negeri.” kata Bu Mila menjelaskan. “Tapi sekarang, biarkan saya bersenang-senang dulu dengan kontol Mas Anang yang besar ini!”
Bu Mila mengambil posisi duduk di atas pahaku. Perlahan-lahan beliau meraih kejantananku dan membimbingnya menuju ke gua darbanya yang sudah basah. Dia terlihat meringis saat ujung penisku mulai memasuki memeknya yang hangat.
Entah karena memek Bu Mila yang sempit, ataukah karena kontolku yang besar, proses penistrasi itu berjalan dengan lambat namun nikmat. Bu Mila tampak susah payah berusaha agar batang kontolku bisa masuk utuh ke dalam memeknya. Sampai akhirnya…
“Aaougghh…., aduh Mas Anang! Gede banget kontolmu!” tubuh Bu Mila yang mulus tampak berkilat-kilat oleh cucuran keringatnya. Beberapa kali ia menghirup nafas dalam-dalam sambil membiarkan batang kontolku terbenam dalam rongga vaginanya yang sempit. Beberapa saat kemudian Bu Mila mulai beraksi. Dengan kedua tangannya bertumpu pada dada bidangku, beliau mulai mengayunkan pantatnya naik turun.
“Aaaahhh…, aahhhh…, ooougghh…!” Aku mendesah-desah keenakan. Kedua tanganku memegang pinggul Bu Mila untuk mengatur gerakan naik turunnya. Sesekali tanganku juga merayap naik, menggapai dua buah benda kenyal yang melambai-lambai indah seiring dengan gerakan naik turun tubuhnya. Dengan liar Bu Mila menghentak-hentakkan pantatnya, meliuk-liuk di atas tubuhku, seperti seekor ular betina yang tengah membelit mangsanya. Terkadang beliau juga membuat goyangan memutar pantat sehingga jepitan vaginanya terasa mantap. Batang kontolku terasa seperti di pelintir dan dipijit-pijit di dalam lobang kenikmatan itu. Terasa hangat dan nikmat.
Semakin lama gerakan Bu Mila semakin liar tak terkendali. Menghujam-hujam kejantananku semakin dalam dan mentok sampai dinding terdalam rongga vaginanya. Nafas kami juga semakin memburu, seperti bunyi lokomotif rua yang berjalan dengan sisa-sisa tenaganya.
“Oh, Mas Anang…, saya…sudah…nggak kuat…lagi…! Arrrgghhh….!”
Bu Mila menjerit nikmat berbarengan dengan muncratnya magma panas dari dalam rahimnya. Beliau mencengkeram kuat-kuat dadaku. Seolah ingin menancapkan kuku-kukunya ke dalam dada bidangku.
“Ooohhh…, sebentar lagi Bu! Saya juga sudah mau keluar…, ooohhh…yeaahhh….!”
Aku juga mempercepat gerakanku. Meskipun Bu Mila terlihat lelah, namun aku masih bisa menopang tubuhnya dan menggerakkan pinggulnya ke atas dan ke bawah.
Beberapa menit kemudian, aku merasakan batang kontolku semakin mengencang dan mulai berdenyut-denyut. Aku segera mempercepat gerakanku. Ku hentak-hentakkan tubuh Bu Mila. Bunyi berkecipak semakin terdengar nyaring. Sampai akhirnya…..
“Saya…, keluar Bu! Oogghhh…!” aku mengerang nikmat bersamaan dengan menyemburnya spermaku di dalam rongga kenikmatan Bu Mila. Seketika tubuhku lemas. Aku sudah tak mampu lagi menopang beban Bu Mila yang berada di atas tubuhku. Beliau ambruk menindih tubuhku sementara batang kejantananku masih tetap menancap di vaginanya yang hangat. Dalam hati aku kagum dengan wanita ini. Beliau telah memberikan pengalaman baru dalam bercinta. Belum pernah aku merasakan senikmat ini dalam berhubungan sex.
“Mas Anang memang benar-benar hebat!” kata Bu Mila sambil membelai bulu-bulu halus di dadaku.
“Ibu juga hebat! Belum pernah saya sepuas ini, Bu!” Aku mengecup kening beliau dan membelai rambutnya yang terurai panjang. Tak berapa lama kemudian akupun terlelap dalam dekapan hangat Bu Mila.
Entah sudah berapa lama aku terpejam, ketika aku merasakan sesuatu yang merayap di atas perutku. Sesuatu yang hangat dan lembut. Perlahan aku membuka mataku, ternyata Bu Mila tengah asyik menciumi, menjilati dan melumat permukaan kulit perutku.
“Aahhh…, Bu Mila masih pengen nambah lagi?” desahku pelan.
Bu Mila tersenyum manja, “Habis…, kontol Mas Anang guede sih! Siapa sih yang gak ketagihan ama kontol segede ini!”
“Ah, Bu Mila ini bisa aja!” aku hanya merem melek, menikmati tangan beliau yang bermain main nakal di selangkanganku. Dengan lembut Beliau membelai kejantananku dan mengurut-urutnya dengan jempol dan telunjuknya. Terasa nikmat memang. Bu Mila bertambah antusias ketika batang kontolku mulai membesar dan mengeras. Dan dengan rakus, Bu Mila mulai menjilatinya, melumat dan mengocok kejantananku dengan mulut mungilnya.
“Aaahhh…, aaahhh…, enak Bu! Oohhh…!” aku hanya bisa mengerang keenakan.
“Hhhhmmm…., Mas Anang mau yang lebih enak lagi?” tanya Bu Mila menggoda.
“Emang ada yang lebih nikmat, Bu?”
“Coba Mas Anang berdiri!” aku menuruti perintah Bu Mila. Dengan kondisi tubuhku masih telanjang bulat, aku berdiri di atas ranjang. Sementara itu, Bu Mila yang berlutut di hadapanku tampak memandangi batang kejantananku yang sudah berdiri mengangguk-angguk. Perlahan-lahan Bu Mila meraihnya dan mengocoknya dengan lembut. Ku kira beliau akan memasukkan batang kontolku ke dalam mulutnya, tapi ternyat tidak. Beliau ternyata malah menggosok-gosokkan batang kontolku di permukaan buah dadanya yang lembut.
“Oohhh….yaaahhh! Enak banget Bu!”
“Ini masih belum seberapa, Mas! Coba Mas Anang rasakan yang ini…” Bu Mila menggeser batang kontolku dan menyelipkannya di antara belahan buah dadanya. “Sekarang, coba ayunkan pantat Mas Anang!”
Aku menurut saja. Perlahan-lahan aku mengayunkan pantatku maju dan mundur, sementara Bu Mila menekan-nekan buah dadanya ke dalam sehingga batang kontolku terasa terjepit-jepit diantara susunya yang kenyal.
“Oouuhhh…! Bu Mila memang benar-benar pandai memanjakan pria! Ini benar-benar luar biasa, Bu!” aku mendesah-desah nikmat. Susu Bu Mila yang menekan-nekan kontolku membuat diriku serasa melayang. Lama juga kami melakukan foreplay ini. Sampai akhirnya Bu Mila memintaku untuk segera menuntaskan permainan itu.
“Aahhh…, Mas Anang! Ibu sudah kepengen banget nih!” rengek bu Mila. Beliau melepaskan jepitan susunya dan kemudian mengambil posisi seperti orang sedang bersujud. Meskipun aku masih belum begitu pengalaman, namun aku sudah pernah melihat posisi seperti itu dalam film porno. Perlahan-lahan aku membimbing kejantananku yang sudah berdiri keras ke arah lubang kewanitaan Bu Mila yang menganga dari belakan. Bu Mila tampak menggigit bibir sendiri ketika aku mulai menggesek-gesekkan ujung penisku di bibir vaginanya.
“Ooouhhh…, ooohhh…! Cepetan masukin dong Mas!” rengek Bu Mila.
Pelan-pelan ku tusukkan ujung kejantananku ke arah vagina bu Mila yang memerah.
“Aahhhh…!” aku melenguh nikmat. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, tapi Bu Mila masih memiliki memek yang seret lagi keset. Jepitannya masih terasa kuat, seolah-olah ingin meremukkan batang kontolku. Terlebih ketika seluruh batang kontolku tertanam dan terhisap di dalam rongga memeknya. Sesaat aku membiarkan kontolku tertancap. Kemudian, pelan tapi pasti aku mulai mengayunkkan pantatku maju mundur.
“Aaaahhhh…, yeaahhh….! Sodokanmu mantep banget Mas Anang, Ooohhh…!” Bu Mila mengoceh tak karuan. Ah-uh-ah-uh, oh-yeh-oh-yeh! Beliau juga hanya bisa meremas-remas seprei kusut itu saat gerakanku mulai cepat. Lama juga kami bermain dalam posisi doggy itu, sampai akhirnya Bu Mila terlihat sangat lelah.
“Aduh…, Oouhhh… kita istirahat dulu ya sayang! Ooohhh…!”
Aku mencabut penisku, sedangkan Bu Mila terguling ke samping dan terkapar dengan tubuh bersimbah keringat. Buah dadanya yang montok tampak naik turun seiring dengan deru nafasnya yang terengah-engah. Setelah mengatur nafas beberapa saat, akupun mulai melanjutkan aksiku. Ku bentangkan kaki Bu Mila kesamping, ku angkat kaki kanannya dan ku letakkan di atas bahuku. Perlahan-lahan ku tarik pinggang Bu Mila dan ku arahkan batang kontolku menuju gua darbanya yang menganga, dan sleeeep…!
Kembali kejantananku tertanam dalam lobang hangat itu.
“Aduuhh…, pelan-pelan dong sayang!” rintih Bu Mila.
Kembali aku ayunkan pantatku perlahan-lahan namun pasti. Bu Mila yang berada di bawahku tampak kelonjatan menikmati aksiku ini. Terlebih ketika aku membercepat ayunanku dan menekan kuat-kuat batang kontolku ke dalam rahimnya. Beliau hanya bisa mengerang nikmat sambil mencengkeram kuat-kuat lenganku yang sesekali meremas-remas buah dadanya.
“Iyaah…aaghhh! Terus sayang…yahhh…yaahh…oouug ghhh….!” Bu Mila mengoceh tak karuan. Namun aku tidak menghiraukannya. Aku terus memompa tubuhku dengan gerakan mengorek-ngorek lubang nikmat itu. Semakin lama gerakanku semakin liar.
“Ooohh…, Mas! Saya sudah nggak sanggup lagi…., Ooohhh…., saya mau keluarrr….!”
Aku merasakan dinding-dinding vagina Bu Mila mengerut dan berdenyut-denyut, mencengkeram dan meremas-remas batang kontolku dari dalam. Semakin lama kedutan vagina Bu Mila semain cepat, hal yang sama juga terjadi padaku. Batang kontolku sudah terasa ngilu dan berdenyut-denyut. Sampai akhirnya…..
“Aaarrggghhh….! Aku keluar lagi Mas!” Bu Mila menjerit puas. Aku semakin mempercepat gerakanku, mengoyak-ngoyak isi vagina Bu Mila.
Namun ssebelum spermaku keluar, aku segera mencabut penisku. Sambil mengocoknya dengan tanganku, aku menyodorkan batang kontolku ke bibir Bu Mila yang terbuka. Aku semakin mempercepat kocokan tanganku sampai akhirnya….
“Aaaaggghh….aaaghh….aaaghh h…!”
Crot…crot…croottt!
Cairan putih kental muncrat beberapa kali ke mulut Bu Mila. Tanpa rasa jijik beliaupun menelan spermaku, kemudian menjilati sisanya yang masih menempel di batang kontolku.
Seketika tubuhku lemas, tulang-tulangku seolah rontok. Dan akupun terkapar di sisi Bu Mila.
“Oh, Mas Anang benar-benar perkasa! Terima kasih ya Mas!” aku memeluk tubuh Bu Mila dan mencium keningnya. Beliau tampak tersenyum puas sambil meletakkan kepalanya di atas dada bidangku dan mengusap-usap bulu-bulu halus di atasnya.
“Kalau saya berhasil jadi Pegawai Negeri, Bu Mila mau minta apa?” tanyaku kemudian.
Bu Mila bangkit dan duduk bersimpuh di sampingku. “Saya tidak minta apa-apa kok, Mas!” beliau tersenyum, “Mas Anang tidak perlu membelikan saya apapu! Saya cuma minta ini…..” Bu Mila meraih penisku yang terkulai tak berdaya. Kemudian mengurut-urutnya dengan jemarinya yang lentik.
“Maksud Bu Mila?” tanyaku tidak mengerti.
“Kalau Mas Anang berhasil jadi PNS, saya cuma ingin Mas Anang mengunjungi saya setiap seminggu atau dua minggu sekali untuk memberi saya jatah punya Mas Anang yang besar ini…..” lanjut beliau sambil menjilati sisa-sisa sperma yang masih lengket di batang kontolku.
“Ah, kalau itu sih gampang! Dengan senang hati saya akan selalu siap melayani Ibu!”
Mendengar jawabanku Bu Mila kegirangan. Dan beliau kembali mengguguah birahiku dengan memberikan kuluman dan kocokan di batang kontolku.

Beberapa minggu kemudian akhirnya aku benar-benar lolos menjadi PNS. Dan setelah dilaksanakan pelantikan, aku memenuhi janjiku kepad Bu Mila. Setiap kali ada kesempatan, aku selalu berkunjung ke tempat Bu Mila. Tentu saja untuk memberinya kepuasan. Dan selama berhubungan dengannya, beliau masih saja mengakui kejantananku.

Video Bokep Terbaru